Wednesday, May 05, 2004

Puncak Kesenangan Generasi Terdahulu dalam Mengerjakan Qiyamul Lail

cuplikan : Bagian 4
Judul Buku : Bersujud di Keheningan Malam
111 Jalan Menumbuhkan Gairah Qiyamul Lail
Penerbit : Mitra Pustaka
Pengarang : Muhammad Shalih Ali Abdillah Ishaq

Seseorang tidak dapat merasakan manisnya shalat, lezatnya bermunajat, dan nikmatnya berkhalwat dengan Allah serta selalu ingin melakukannya sebelum shalat tersebut diposisikan sebagai obat dalam hatinya. Tahap selanjutnya shalat menjadi penyejuk bagi penglihatannya, penyenang bagi ruhaninya, pembuka hatinya, penangkal segala penyakit, penghilang keragu-raguan, penyingkap kesedihan hati, dan membuat senang pada jiwanya. Siapa saja yang bisa merasakan semua itu ia akan mengetahui manisnya shalat. Orang-orang saleh jaman dahulu juga merasakan hal-hal demikian dalam shalatnya.

Abdullah bin Wahab rahimahullah mengatakan :
"Setiap kelezatan dunia itu hanya memiliki satu kelezatan, berbeda dengan ibadah. Sesungguhnya ibadah itu memiliki tiga kelezatan. Yaitu ketika aku melaksanakannya, ketika aku mengingat-ingatnya, dan ketika aku mendapatkan pahalanya (Ibnu al-Kharrath, ash-Shalat wa at-Tahajjud).

Tsabit al-Banani rahimahullah berkata:
"Aku tidak dapat menemukan sesuatu yang paling lezat dalam hatiku selain Qiyamul Lail." (Asy-Sya'rani, Tanbih al-Mughtarin).

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata:
"Sungguh waktu malamnya orang yang ahli taat itu lebih nikmat daripada main-mainnya orang yang suka bermain-main (Abu Nu'aim, Hilyah al-Auliya', X:15).