Thursday, May 06, 2004

Qiyamul Lail dapat Menjauhkan Diri dari Kelalaian Hati

cuplikan : Bagian 6
Judul Buku : Bersujud di Keheningan Malam
111 Jalan Menumbuhkan Gairah Qiyamul Lail
Penerbit : Mitra Pustaka
Pengarang : Muhammad Shalih Ali Abdillah Ishaq

Kelalaian merupakan penyakit yang berbahaya. Hati seseorang dapat terjerumus ke dalamnya bila ia terlalu sering melakukan hal-hal yang mubah sehingga malas melakukan ketaatan, tenggelam dalam kenikmatan dan jarang sekali bermunajat kepada Tuhan Yang Menguasai langit dan bumi ini. Obat yang paling manjur untuk mengobati penyakit tersebut adalah mengerjakan Qiyamul Lail, dengan memohon izin kepada Allah.

Diriwayatkan dari Abudullah bin Amr bin al-Ash ra., bahwasanya Nabi saw. pernah bersabda:
"Barangsiapa yang ber-qiyam dengan membaca sepuluh ayat, ia tidak akan dicatat sebagai orang lalai. Barangsiapa yang ber-qiyam dengan membaca seratus ayat ia dicatat sebagai orang yang selalu taat. Barangsiapa yang ber-qiyam dengan membaca seribu ayat ia dicatat sebagai orang yang memiliki harta banyak." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan Ibnu Huzaimah dalam kitab Sahihnya. Al-Albani menganggap hadis ini hasan dalam kitabnya Shahih at-Targhib wa at-Tarhib nomor 635).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Nabi saw. pernah bersabda :
"Barangsiapa yang mengerjakan shalat pada malam hari dengan membaca seratus ayat maka ia tidak akan dicatat sebagai orang lalai, dan barangsiapa yang mengerjakan shalat pada malam hari dengan membaca dua ratus ayat maka sungguh ia akan dicatat sebagai orang yang selalu taat dan ikhlas." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, ia katakan hadis ini sahih menurut kriteria Muslim. Adz-Dzahabi juga menetapkan demikian).

Yahya bin Mu'adz ar-Razi rahimahullah mengatakan:Obat hati ada lima macam, yaitu membaca Al-Qur'an dengan merenungkan isinya, mengosongkan perut atau tidak memperbanyak makan, Qiyamul Lail, memohon dan merendahkan diri ketika waktu menjelang subuh, dan berkumpul dengan orang saleh. (Ibn al-Jauzi, Shifah ash-Shafwah, IV:92).